Rokok oh Rokok

Pengeluaran masyarakat Indonesia untuk membeli rokok dan tembakau ternyata melampaui anggaran belanja sejumlah bahan pangan bergizi. Bahkan, uang yang dihabiskan untuk rokok setiap bulan lebih besar dibandingkan total pengeluaran untuk daging, telur, dan susu. Fakta tersebut terungkap dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026 yang dipublikasikan pada 5 Oktober 2026. Berdasarkan laporan tersebut, rata-rata pengeluaran masyarakat untuk rokok dan produk tembakau mencapai Rp94.180 per kapita per bulan pada Maret 2026. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp91.708 per kapita per bulan. Angka tersebut merupakan rata-rata pengeluaran masyarakat di wilayah perkotaan dan perdesaan. Menariknya, belanja rokok masyarakat perdesaan justru lebih tinggi, yakni mencapai Rp100.951 per kapita per bulan, dibandingkan masyarakat perkotaan yang sebesar Rp89.683. Kenaikan belanja rokok terjadi seiring meningkatnya pengeluaran konsumsi masyarakat secara keseluruhan. BPS mencatat, rata-rata pengeluaran penduduk Indonesia mencapai Rp1.657.281 per kapita per bulan pada Maret 2026, naik dari Rp1.569.088 pada Maret 2025. Secara garis besar, rokok dan tembakau menyumbang 11,57 persen dari total pengeluaran makanan masyarakat. Angka tersebut sekaligus menempatkan rokok sebagai kelompok pengeluaran terbesar kedua setelah makanan jadi. Besarnya alokasi belanja rokok ini menjadi ironi di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan mempercepat penurunan angka stunting.